About Me

Foto saya
Indonesia
Analytic person, Fantastic dreamer, Sensitive feeling, but actually I am kind, friendly and fun

Minggu, 27 Januari 2013

Perbincangan 2 cicak (2)



Di sudut kamar dengan latar belakang yang sama,
dan setting waktu yang sama,
namun pada hari yang berbeda..
Keduanya berhadapan juga bertemu dalam pertautan,
Tapi kali ini dalam air muka yang lebih ringan..


“Kau membentangkan harapanmu di setiap malam,
Memangnya itu mujarab?”

“Entahlah, mungkin agar hari esok masih tetap bernyawa.”

“Kali ini bisakah kau berhenti berfikir,
berhenti merasa cemas,
Tidak perlu getir akan hal yang memang belum kita ketahui.”

“Ya. Kau mungkin tahu.
Kita bertiga menjadi saksi setiap kecemasan kita masing-masing.
Tapi tahukah kau, menurutmu mengapa kita harus merubah rencana Tuhan?”

“Karena setiap dari kita adalah makhluk berkeinginan.
Kita memiliki freewill.”

“Ya benar, dan andai saja keinginan itu tidak pernah tumbuh.
Baiklah kita sepakat tidak lagi membahas keterlemparan.
Kali ini kita bercerita tentang pembekalan saja.
Aku telah melihat fenomena orang terdekat,
tidak juga bisa melepaskan semua aksesoris yang telah menempel pada diri kita.”

“Aku memiliki kisah,
Kisah di dalam kisah atau sebut saja semacam bingkai di dalam bingkai.
Ini tentang sisi pertahanan.
Di langit kamar yang berbeda saat itu,
aku melihat lampu kamar yang pernah padam.
2 hari 2 malam nampak tidak ingin dihidupkan.
Seseorang duduk sendirian, sesekali terdengar isakan.
Dia tidak berani melangkah keluar,
mungkin saat itu dia sedang hancur.
Keesoknya dia jalani dengan begitu saja.
Dia tampak menyedihkan,
bukan lagi tentang uang koin atau apa yang bisa dikumpulkan.
Dia hanya membagi apa yang ada.
Membagi dan membagi hingga kecil-pun adalah peluang.
Selepas dari itu ia tetap merasa menyedihkan.
Ia butuh lebih banyak cara tapi ia kehabisan akal.
Tinggallah energi dan otot-otot yang melekat yang ia punya.
Ia enggan menangis, enggan berbagi.
Baginya memang tidak pernah ada solusi.
Ia hanya berharap bahwa ia masih boleh berharap.
Kakinya digunakan menapaki kilometer yang hanya bisa dihitung dengan kesabaran.
Ia tetap meyakini Tuhan Maha Melihat.
Adalah hari-hari yang dilalui tidak lagi beraturan.
Hingga akhirnya fisiknya drop.
Tidak lagi bisa bertahan setelah berbulan-bulan.
Tidak ingin menjadi beban terlalu lama,
Ia merasa raganya ikut menyerah.
Sudah. Terkadang jalan Tuhan harus menyudutkan.
Atau setidaknya cara untuk menafsirkan isyarat Tuhan.
Dia tidak ingin menyalahkan yang lain
atau siapa yang membuatnya begitu.
Yang kini hilang mungkin diambil yang lain
karena tidak punya cukup banyak pembekalan.”

“Kini aku percaya,.. manusia dirancang untuk terluka..”