About Me

Foto saya
Indonesia
Analytic person, Fantastic dreamer, Sensitive feeling, but actually I am kind, friendly and fun

Kamis, 12 Juli 2012

Pelajaran Moral #Friday13

1. Some people around want you to be an evil, devilish, stained with sin. They don't want you on the right path. Then they call it hypocritical. If it make them happy, so be a whole! An half make you confused. Be an evil and dig thing down to the core.


Choose your way, suffering with much of slander, or strong like an evil!


2. Hidupkan kembali Liberalisme!
Dihidupi dengan patahan kata penenang hati, yang terkadang menjadikan candu, memang menyenangkan. Apa jadinya kalau manusia ini buta dari objektivism? Terjejal oleh satu idealis metafisik hingga tidak bisa memuntahkan rasionalis yang logis.
Bung, hidup ini liberal, negara ini demokrasi dan multikultural! Jika hanya ingin menghidupkan satu kepercayaan dan mematikan manusia lain karenanya, apa bedanya kita dengan komunis?! Bentuk saja negaramu sendiri, atau pergilah dari sini dan temukan tempat yang seiring dengan kemauanmu.

Bukankah kita menjadi unik karena perbedaan, dan menjadi hidup karena pemahaman...


3. Red Ink..
Konyol! Kekuasaan, Uang dan Penis akan membuatmu tangguh tak terkalahkan.
Lalu bagaimana Tuhan mengkebiri semuanya satu per satu

Weightness tidak akan berdamai dengan lightness..

Halaman Persembahan Skripsi

Dari Skripsi 0806465913 FIB UI
Ethics Justification for Corporate Social Responsibility Based on Utilitarianism Ricahrd Mervyn Hare's Theory.


KATA PENGANTAR


            Tidak ada yang pernah tahu kemana hidup akan membawamu. Rhytme langkah kaki sendiri pun demikian, melemparkan saya pada sebuah zona yang tidak biasa. Awalnya ini terasa sangat asing, complicated, dan tidak mudah untuk melebur. Segala kompleksitas itu memaparkan realita dan fakta yang terkadang masih sulit untuk saya pahami. Dengan sangat bersusah payah akhirnya saya mampu tiba di penghujung. Sebuah survive-bilitas yang penuh kebersyukuran. Tuhan terimakasih atas segala pembekalan indah ini. Terimakasih sungguh, atas semua yang tidak bisa panjang lebar diungkapkan secara detail dari seorang yang tidak seberapa ini. “Sesungguhnya pelindungku adalah Allah” (QS 7 : 196), zat Maha Sempurna yang mengatur segalanya dengan jalan yang indah.
Signifikasi simbolik ini saya persembahkan teruntuk kedua orang tua saya Oskar Trihadi, S.H. dan Sri Eliyati, S.E., yang amat saya cintai. Betapa segala pengorbanan tidak akan pernah bisa membalas segala bulir keringat dan air mata. Papa adalah ayah terhebat di seluruh negeri. Wajah datar menyimpan kegelisahan ataukah perjuangan yang tidak pernah saya ketahui, namun tenang temaram dengan penuh kesabaran dan pengertian luar biasa. Saya mencintai papa dengan segala kemasan canda gurau yang tidak pernah terlewat. Laki-laki utama dan pertama dalam hidup saya yang tidak pernah akan terganti. Mama, adalah segalanya dalam hidup saya. Mama telah menginjeksikan segala idealisme, prinsip, edukasi dan kasih sayang berlimpah. Mama adalah inspirasi, reformasi, teman, sahabat, dan ketergantungan dengan seluruh kasih sayang yang bercampur yang membentuk sosok yang selalu dibutuhkan. Doa dan pelukan mama menjadi obat terampuh dari dopping apapun.
Selanjutnya, ucapan terimakasih saya ucapkan kepada kakak laki-laki tertua sekaligus saudara kandung satu-satunya, Aries Karyadi, S.T. Magnet senama yang tolak menolak selalu menjadi perumpamaan yang terlintas dalam pikiran ini. Kami tidak pernah sejalan dan ada saja kandungan ion-ion negatif dari elektromagnetik sehingga selalu saja ada perselisihan kecil antara kami. Kata maaf adalah kata yang paling ingin terlontar dari mulut saya. Maaf karena selalu merepotkan, menyebalkan, atau menjadi beban yang hidup yang tidak bisa dilipat atau disimpan sekadar di saku celana agar diam dan tidak berisik. Bagaimanapun, rasa kebanggaan dan kagum terus mengalir sehingga tidak perlu mengidamkan sosok lain atau menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa meraih prestasi-prestasi sulit, yang bahkan bisa ia lumpuhkan. Terimakasih atas transfer ilmu, doa, energi, maupun materi yang selalu mendukung kelancaran perjalanan penulis. Juga kepada kakak ipar saya Rianti Yusti Madina, S.H., yang selalu sabar, penuh dukungan dan perhatian. Juga untuk semua keluarga besar penulis.
Ucapan terimakasih saya ucapkan kepada pembimbing akademis sepanjang perjalanan perkuliahan penulis, Ibu Herminie Soemitro, S.S., M.A. Ibu, layaknya malaikat yang dikirimkan Tuhan kepada saya. Sosok Ibu yang selalu merasakan penderitaan anaknya dan memperjuangkannya dengan segala upaya. Entah dengan apa ucapan dari lubuk hati terdalam ini mampu terungkapkan. Terimakasih atas arahan, doa, bimbingan, ilmu, perjuangan, support, dan semuanya yang hanya Tuhan yang dapat membalasnya. Menempatkan Ibu dalam posisi sulit, atau terkadang malah memperburuk keadaan. Beribu maaf saya haturkan kepada dosen terbaik sepanjang perjalanan ini. Semoga Tuhan selalu melimpahkan kebahagiaan kepada Ibu.
Terimakasih saya haturkan kepada pembimbing skripsi saya, Bapak Dr. Naupal, S.S., M.Hum atas jadwal bimbingannya yang mungkin menyita waktu Bapak, untuk pengertian luar biasa, ilmu, bimbingan, arahan, perhatian, dan dukungan penuhnya. Terimakasih telah memperjuangkan, mempermudah, dan memahami seluk beluk kecemasan saya. Kata maaf juga saya iringi sepanjang perjalanan bimbingan, maupun selama berstatus sebagai mahasiswa. Berkat Bapak skripsi ini selesai, mengantarkan kelulusan disertai kebahagiaan dari sambutan pihak keluarga.
Terimakasih kepada Bung Sandi sebagai pembekalan awal penulis mencari inspirasi, bertanya, dengan support dan masukan, buku-buku, serta banyak teori. Dari Bung Sandi, ide ini berjalan. Terimakasih kepada para dewan dosen Departemen Filsafat FIB UI, Bapak Vincensius Jolasa Ph.D, Bapak Fuad Abdillah M.Hum, Bapak, Y.P. Hayon M.Hum, Ibu Dr. S. Margaretha Kushendrawati, Prof. Tommy F. Awuy S.S., Dr. A. Harsawibawa, Ibu Dr. Vincentia Irmayanti, Bapak Dr. Budiarto Danujaya M. Hum, Bapak Donny Gahral Adian M.Hum, Dr. Achjar Yusuf Lubis, Bapak (Alm.) I Wayan Surwira Satria M.M., Eko Wijayanto M. Hum, Mba Saraswati Dewi M.Hum, Bung Fristian M.Hum, Mba Ikhaputri S.Hum, dan The Master of Philosophy Lecturer, Bapak Rocky Gerung
Berikutnya, terimakasih juga saya ucapkan kepada teman-teman terbaik Filsafat’08. Shanti Marliana, Lefita Gozali, tempat keluh kesah dan menampung segala curhatan penulis yang entah siapa lagi yang bisa mendengarkan sebaik kalian. Terimakasih kepada Ajeng Lesmini, Sistha Widyaresmi, Ica-Khoirunnisa, Ranggi Marseti, Shane, Steffi, Yuwita, Della, Willy, Arfan, Liana, Meta, Dadah, Okvi Ellyana, Dona Niagara Dinata, Nurul, Abby Gina, Bella Marcellina Sandiata, Indah, Ismi, Erby, Agrita, Doni, Agung, Bayu, Sona, Irsyad, Sopa, Mellisa, Yasin, Daru, Mahdityo, Boni dan Hario Susanto. Juga kepada Kartika, Nashruddin, Rasyid, Richard Boone dan Giovannie Virginia. Terimakasih atas semuanya, juga karena telah mengisi cerita perjalanan penulis. Juga kepada Filsafat 2007, Izky, Coni, Iqit, Hari Purwanto, Kari G. Pramudya, Wira, Teia, Richard, Alfa, Era, Tika, Heri, Nia, Prayoga, Leo, Taufik, Dipa, Johan, Nila, Winnie, dan semua yang maaf jika belum tersebutkan. Kepada Filsafat 2006, Filsafat 2005, Filsafat 2004, maupun senior lainnya, serta Filsafat 2009, 2010 dan generasi selanjutnya.
Dukungan dan pertolongan dari asupan kediaman penulis, Fenny Triagustina, Cici, Ratih Maya, Ninda J.P., Gina Ganarti, dan semua warga wisma asri. Keberlangsungan dari survive-bilitas ini dilanjutkan dari kediaman sebelumnya Ganesha-Galz, Sarah Faisal Rosa, S.H., Irma Sriwijayanti, S.E., Widya Ratna Pratiwi, S.Sos. sebagai teman terbaik dan selalu penulis rindukan. Entah dengan apa waktu bisa kembali dengan segala energi positif, obrolan berkualitas, kehidupan yang bisa ‘terbang’, dan segala kegilaan lainnya itu, mampu terulang.
Sahabat penulis M. Yoerliansah Tangkari S.T., Feni Shintarika S.Pt., Mba Astri Ayu Chayani, yang mana selalu ada saat penulis butuhkan. Tempat penulis mengungkapkan segala resah gulana, kegelisahan, setumpuk permasalahan, meminta  advice, bantuan dan semuanya. Best friends never end for Metha Risa Sujana, S.Ked, Pralia Winda Sari S.Ked, Yunia Wiraswasti, Zuftia Ristarani, Tiara Mailisa, Rismawati Saputri, Giska Sevlanda, Risa Rikafitri. Untuk Dini Apdelina, Moliya Nurmalisa, M. Arbi Ramadhan, dan Kak Intan atas semua semangatnya. Serta Kak Imam Nur Ramdhany, Ericky Bobby Ferdinanda, Andri Indrayasa, Kak Martin, Kak Frenki, dan seseorang yang tidak mau disebutkan namanya.
Teman-teman di Telkom, penulis menyadari bahwa menjadi sebuah keberkahan bertemu dengan orang-orang sebaik kalian. Sarah, Gini, Aish, Kadut, Ririn, Eti, Wiwin, Belo, Shinta. Juga teman terbaik selama setahun di Bandung Febri, Rinrie, Kiky, Ita, Rivan, Gawan, Doni, serta semua teman Black A Simulation 2007. Kalian memberikan pelajaran dalam perjalanan penulis.
Juga semua rekan sejawat FIB, teman di UI, bedah kampus UI 2010 (emer dan irma), BEM UI 2011, relasi kober, teman-teman Smanda, Spanda, maupun Persit (gank planet yang penulis simpan sebagai kenangan terbaik) akan selalu ada dalam memori penulis.
Untuk sosok inspirasi dari tulisan maupun retorika yang penulis temui, semangat membangun pada setiap hari senin terakhir semester delapan, Bapak Glory Kemenbudpar (tempat penulis magang), solistice, dan Dewi Lestari yang sangat membantu menemukan karakter dan jalan berfikir.
Terakhir, untuk seseorang yang masih dalam misteri yang dijanjikan Ilahi yang siapapun itu, terimakasih telah menjadi baik dan bertahan di sana.
Akhir kata, semoga skripsi ini membawa kebermanfaatan. Jika hidup bisa kuceritakan di atas kertas, entah berapa banyak yang dibutuhkan hanya untuk kuucapkan terima kasih.
 It have never been easy, but it would be worthy since everything happened for a beautiful reason. It’s all about my struggle and how I survive. To show everyone I’m right and do not get the wrong train, how I put aside my hatred for anyone, and how I’m thankful for ‘philo’ and ‘sophia’. No constant mind, just like a philosopher's mind, the sea of human perception.

Filosofi Kopi

"Aku berarah padamu dan kamu kepada yang lain yang menjadikan terkatung-katung.. Mengapa kita harus teralienasi dalam masokis kita masing-masing..."

"Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang?"

"Aku merasa diriku mengawang-awang. Tinggallah sebentuk kesadaran, sebuah permohonan kini melayang-layang dalam dimensi non materi.. Tidak ada waktu. Tidak ada ruang. Tidak ada wujud. Kumasuki labirin pikiranmu dan melebur disana..."

"Pegang tanganku tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring bukan digiring.."

"Kesedihan akan selalu membawamu pulang ke rahim ibu tempat engkau meringkuk nyaman sendirian.."

"Hening menjadi cermin yang membuat kita berkaca, suka atau tidak pada hasilnya.."

"Adakalanya kesendirian menjadi hadiah ulang tahun terbaik. Keheningan menghadirkan pemikitan yang bergerak ke dalam, menembus rahasia terciptanya waktu.."

"Maka tanyakanlah arti kebebasan pada kawanan kuda liar.. Suara hatimu akan mati jika kau kebiri.."

"Karena kamu sudah membayar mahal untuk perjalanan ini.."



"Dan di tengah gurun yang tertebak jadilah salju yang abadi, karena kau berani beku dalam neraka, kau putih meskipun sendiri, kau.., berbeda."

Minggu, 17 Juni 2012

Sedikit Random di Suatu Malam

Terpaksa beralih memberi sedikit wasting thread pada lapak yang seharusnya menjabarkan di dalam penyamaran. Karena penyamaran dalam penjabaran sudah tidak privasi lagi. Butuh ruang yang lebih khusus dari pada 'burung biru' itu.. Segala prejudices atau muara awal signal of the war muncul tuh di postingan TL.. That's why I never follow somebody first, except the inspired one. Sisanya, yaa hanya simbol adat kesopanan belaka..
Duh punteun ini mah..

Okay, Never mind.., No matter.. (Tetap yah ber-ruang dalam dualisme Cartesian Mind and Matter)

semoga pengukuhan eksistensi tidak membuat kita semakin terjebak dalam dunia asing tersendiri which is can certainly be so lonely..
Umh, analisisnya sih disebabkan oleh sebuah transformasi dahsyat dari lidah ke jempol sebagi predikat "hal teringan di dunia"..

Setidaknya menulis adalah lebih baik daripada berbicara. Apa language of game dari Wittgenstein juga dimaksudkan untuk ini ya,.. At least, berbicara adalah mengeluarkan spontanitas,
dan meskipun menulis terkadang tidak memahami makna sesungguhnya tapi banyak pertimbangan dan kekuatan emosi yang melibatkannya..

Hhhh.., pikiran kembali pada pernyataan seorang teman tentang "terlalu aman di zona nyaman"..

Hallooo, ini bukan tentang seseorang tidak ingin menikmatinya, mana ada orang yang tidak mau ada di zona itu. Kami tidak diberi kesempatan, ohh sayang..
Untuk manusia yang berfikir pada idealismenya yang baginya paling hebat, terkadang latar belakang situasi menyudutkan kamu untuk cepat-cepat mengambil antisipasi. Dengan sendirinya zona nyaman adalah sepanjang zona yang saya lewati tanpa ketidakjelasan. Defenitely from my perspective!

Entah kenapa, kini aktivitas 'mendengar' terasa begitu memuakkan. Terasa lebih menyenangkan  collecting stack of paper untuk mereka yang ingin berbagi sebuah positivisasi value. Mario Teguh pun adalah alternative terakhir sekedar untuk menguatkan argumentasi. Iya, sekarang saya mendengar untuk mengukuhkan positioning teradaptif. Bukan lagi kertas polos yang bisa didoktrin apa saja. Mungkin kita adalah penyaringan, ampas mana yang tidak berguna sehingga harus dibuang.


Daann.., inilah awal kehidupan.. Ternyata saya baru melangkah. Nobody said that it would be easy, but they can promised it would be worth it. And everything should be happen for a reason.

Selasa, 29 Mei 2012

Senin terakhir, Mei 2012


Dia bilang ini sudah tiba di penghujung.
sudah berakhir.
Akhir dari satu persimpangan dari sebuah jalan yang sedang
“Selamat tiba di persimpangan”.
jatuhkan dirimu pada titik persimpangan karena hidup adalah tentang memilih dan pilihan,
It's all about freedom to choice.

Dia selalu menelaah apa yang sedang aku pikirkan. Dia menjawab apa yang aku ingin ketahui, apa yang sedang aku hadapi. Kau percaya dengan kebetulan di dunia ini?! Entahlah, aku tidak. Aku meyakini dirinya seperti memang sesuatu yang aku dewakan. Pertemuan dengannya seperti sebuah klimaks selama masa empat tahun ini. Waktu yang mendebarkan untuk ditunggu. Rasa di bawah ketertekanan di bawah mitos garang dengan kepanikan luar biasa. Tapi tahukah, dia bertindak lebih lembut dari apa yang pernah kami harapkan. Dia jauh lebih bersabar dan luar biasa dari sebelumnya. Jika tidak mempedulikan formalitas baku seperti yang telah aku bicarakan sebelumnya, aku ingin menahan diriku lagi dan lebih lama lagi. Hingga aku pantas untuk menyandang lalu berujung disaat aku memang pantas untuk berakhir.
Direct yourself to be arrived at the point of intersection way. (RG)
-diujung pertemuan.

Bagaimana, selanjutnya hari Senin akan kosong dan entah apa yang harus kupilih. Benci tentang perpacuan hormon yang tidak berhenti-henti mendadak berpindah arena, berebut dan berjejal untuk muncul lebih dahulu.
Tuhan pernah memberiku kokain penenang. Tapi kesalahan, Aku menggunakannya berlebihan tanpa mendapat informasi lengkap preskripsi penggunaan atau sekedar bersabar. Menyerah pada Pak tua yang memegang bandul yang selalu bergerak ke kiri dan ke kanan tanpa peduli orang yang berlalu lalang, SANG WAKTU. 
Sekarang, kembali aku menginginkan marijuana. Akankah Tuhan memberinya padaku. Dalam kapasitas yang samakah, atau justru kembali pada zona penggunaan yang sama. Sederet zat perangsang yang aku ibaratkan itu adalah disposisi konsumsi. Maka, zombie adalah pilihan terbaik saat ini.

Berada dalam zona probability adalah jauh lebih baik dibanding uncertainity. Kau tahu kenapa, karena manusia benci ketidakpastian. Tapi kepastian itu sendiri adalah justru 'ketidakpastian'. kemudian dengan heroiknya mencoba memperediksikan kemungkinan ketidakpastian untuk diantisipasi pada hari ini.
Jika hidup memang harus diibaratkan dengan rollercoaster, kenapa pilihan yang ditawarkan hanya berteriak, berhenti di tengah jalan, atau menikmati sampai akhir. Padahal yang mereka lakukan keseluruhannya adalah berpura-pura menikmatinya, tapi berteriak kencang di dalam hati hingga tak tertahan dan selalu menginginkan berhenti. Berpura-pura.. 'Masa' sedang menuntut untuk expert dalam berakting dalam functioning realitas.

Lagi, selanjutnya ketidakpastian ini membawa diri karna bosan menerka atau berharap. Tiba pada akhirnya.
Ajari aku cara yang baik untuk meminta. Ajari aku harus memperjelas permohonanku karena Engkau tidak merasa bahwa yang Kau berikan adalah besar. Atau sebesar yang aku harapkan maka sebesar itu pula yang akan Engkau wujudkan. Atau jangan berangan terlalu tinggi dibalik kapabilitas diri. Atau jangan pernah takut untuk bermimpi. Lalu bagaimana dengan kejatuhannya yang terlalu sakit dari jenjang dan ambang besar harapan yang pernah dipanjatkan serta kenyataannya. Atau aku harus memohon dengan apa saja yang Kau kehendaki yang terbaik untukku. Atau menerima saja yang katanya rencana Mu lebih besar dari keinginan umat yang penuh dengan blind of spot. Atau haruskah aku memohon dengan memperjelas dan memeperinci tanggal, waktu, tempat dan mendesign settingan background yang indah. Atau justru malah terlalu ikut campur dalam penentuan skenario dari Sutradara Tunggal.

Atau apa........


Dan jawaban atas segala identitas yang ingin ddibentuk dapat diidentifikasi setelah tubuh atau corpus tidak lagi bergerak.
Demikian bahwa setiap dari kita harus siap ditempatkan dalam segala perubahan, dalam segala persimpangan, dalam segala kekosongan...