About Me

Foto saya
Indonesia
Analytic person, Fantastic dreamer, Sensitive feeling, but actually I am kind, friendly and fun

Rabu, 23 Oktober 2013

Kosong

Mungkin inilah prediksi kaum kapitalis menggambarkan serdadu pilar-pilar yang tidak seberapa.. Bersinonim dengan mekanisme mesin atau robot. Juga termasuk aku didalamnya tentunya.
Aku rindu rumah. Ingin tanah tapi yang benar-benar berwarna coklat dan mencium harumnya setelah air hujan meresap. Aku rindu udara yang tidak membuat hidung pedas ketika menghirupnya berlebihan. Hingar bingar pasar. Benar-benar tidak menginginkan racun apapun mengelilingi kegiatan kecil hari per hari.

Ternyata benar, kita terkecilkan dalam labirin kita sendiri. Realitas kemudian mengkotak-kotakkan harapan fana dalam fatamorgana semu. Entah bagaimana kita diperdaya pada kebutuhan.

Ahh, andai saja jiwa ini bisa berzinnah sedikit saja. Menikmati pelacuran imajinasi, fantasi, atau apapun yang bisa biasanya mereka lakukan. Dan tidak juga Tuhan memberikan potongan takdir pada mereka. Misalnya setingkat lebih miskin atau sedikit celaka. Tidak. Mereka bahkan sangat baik-baik saja.
Kalau bukan karena kita meyakini adanya surga secara berlebihan.

Maka, jangan pernah pertanyaan tentang keadilan di ranah ini. Kita bukan peri di zama ke-kini-an. Yang mungkin bisa berbagi kasih dengan manusia yang mungkin baik - yang kau yakini.

Mungkin serapah, benci, patah hati. karena (lagi-lagi) kita bukan peri.

Lalu mungkin Tuhan ikut bingung ingin mengabulkan doa yang mana....

Senin, 22 Juli 2013

KAMU ADA

Dan
Betapa hebatnya doa kamu..

Membuat aku benar-benar terjaga,
ada saja tetibanya pengawasan yang super,
disertai nafas yang menjadi sesak,
dan aku
bagai arwah penasaran yang diam tapi lelah dilintasi berbagai rasa tak terdeskripsi..

Tanpa kuantitas, mereka datang dan pergi..
Perubahan empiris membuat persepsi juga turut berubah..
Arah berubah..
Jalan berubah..
Khayalan berubah..
Idealisme turut paling belakang..
Segala probalitas berkecemuk membentuk kegetiran tak tertahan...
Kemudian lepas tanpa alasan..

Semoga kamu nyata...

Minggu, 27 Januari 2013

Perbincangan 2 cicak (2)



Di sudut kamar dengan latar belakang yang sama,
dan setting waktu yang sama,
namun pada hari yang berbeda..
Keduanya berhadapan juga bertemu dalam pertautan,
Tapi kali ini dalam air muka yang lebih ringan..


“Kau membentangkan harapanmu di setiap malam,
Memangnya itu mujarab?”

“Entahlah, mungkin agar hari esok masih tetap bernyawa.”

“Kali ini bisakah kau berhenti berfikir,
berhenti merasa cemas,
Tidak perlu getir akan hal yang memang belum kita ketahui.”

“Ya. Kau mungkin tahu.
Kita bertiga menjadi saksi setiap kecemasan kita masing-masing.
Tapi tahukah kau, menurutmu mengapa kita harus merubah rencana Tuhan?”

“Karena setiap dari kita adalah makhluk berkeinginan.
Kita memiliki freewill.”

“Ya benar, dan andai saja keinginan itu tidak pernah tumbuh.
Baiklah kita sepakat tidak lagi membahas keterlemparan.
Kali ini kita bercerita tentang pembekalan saja.
Aku telah melihat fenomena orang terdekat,
tidak juga bisa melepaskan semua aksesoris yang telah menempel pada diri kita.”

“Aku memiliki kisah,
Kisah di dalam kisah atau sebut saja semacam bingkai di dalam bingkai.
Ini tentang sisi pertahanan.
Di langit kamar yang berbeda saat itu,
aku melihat lampu kamar yang pernah padam.
2 hari 2 malam nampak tidak ingin dihidupkan.
Seseorang duduk sendirian, sesekali terdengar isakan.
Dia tidak berani melangkah keluar,
mungkin saat itu dia sedang hancur.
Keesoknya dia jalani dengan begitu saja.
Dia tampak menyedihkan,
bukan lagi tentang uang koin atau apa yang bisa dikumpulkan.
Dia hanya membagi apa yang ada.
Membagi dan membagi hingga kecil-pun adalah peluang.
Selepas dari itu ia tetap merasa menyedihkan.
Ia butuh lebih banyak cara tapi ia kehabisan akal.
Tinggallah energi dan otot-otot yang melekat yang ia punya.
Ia enggan menangis, enggan berbagi.
Baginya memang tidak pernah ada solusi.
Ia hanya berharap bahwa ia masih boleh berharap.
Kakinya digunakan menapaki kilometer yang hanya bisa dihitung dengan kesabaran.
Ia tetap meyakini Tuhan Maha Melihat.
Adalah hari-hari yang dilalui tidak lagi beraturan.
Hingga akhirnya fisiknya drop.
Tidak lagi bisa bertahan setelah berbulan-bulan.
Tidak ingin menjadi beban terlalu lama,
Ia merasa raganya ikut menyerah.
Sudah. Terkadang jalan Tuhan harus menyudutkan.
Atau setidaknya cara untuk menafsirkan isyarat Tuhan.
Dia tidak ingin menyalahkan yang lain
atau siapa yang membuatnya begitu.
Yang kini hilang mungkin diambil yang lain
karena tidak punya cukup banyak pembekalan.”

“Kini aku percaya,.. manusia dirancang untuk terluka..”


Perbincangan 2 cicak (1)



Pukul sebelas malam,
Disana, di sudut langit-langit kamar mereka saling bertatap.
Tidak bergerak dalam isyarat..
Kupandangi keduanya,
menatap tajam. Seolah tidak boleh diusik.
Percakapan macam apa yang tengah memenuhi keseriusan mereka.
Menyelami raut keduanya, menangkap sisi persepsi melempar pertautan.


..........
“Tidak bisakah kau berhenti memperbincangkan tentang hiruk pikuk dunia,
Kau tidak bisa mengubahnya, kau punya daya apa?
Semua tercipta untuk dilalui begitu saja”.

“Idealisme ini tengah membunuhku.
Tidakkah kau muak dengan kehidupan di luar sana.
Mereka pasti tidak merasakan daging yang melekat pada tubuhnya.
Apa mereka fikir tubuhnya itu hanya tulang-belulang beradu sengit dan nyilu
sehingga lupa akan lidah dan air liur yang merupakan satu kesatuan?!
Menurutmu,
apakah dunia ini diciptakan agar kita terdidik menjadi penjilat??
Kenapa sulit sekali bagiku melebur dalam jiwa peranakan semacam itu.”

“Hahahaha.. Kau ini seperti bayi yang baru saja belajar merangkak.
Hal semacam itu memang nyata adanya.
Kau tahu persis dalam teori, kau pernah mengalami langsung yang lebih berat daripadanya. Apalagi yang kau permasalahkan?
Terima saja itu sebagai sebuah pentabiatan.
Makhluk hina seperti kita tidak punya pengaruh apa-apa.
Kita harus berbuat agar terbuktikan. Atau kau pilih diam agar terselamatkan.
Dan Kau,
kau fikir dirimu itu siapa.
Kelemahan melumuri warna coklat-penuh-mu itu.
Sudahlah.. Terkadang perendahan diri mengantarkan kita pada altar peninggian.”


“Begitukah? Tampak dengan mudahnya kau berucap.
Sekarang jelaskan padaku bagaimana aku bertahan,
dalam setiap detik yang harus terlewat,
dalam setiap nafas yang terasa mencekat?! Beritahu aku!
Kau tahu, Mereka bilang mereka tidak mau mengerdilkan jiwa yang ingin besar,
mereka bilang aku bebas menjadi apa saja dengan caraku sendiri.
Kemudian sedetik saja baru berlalu,
mereka menginginkan aku dibentuk dengan apa yang mereka pinta.
Sesekali menjadi bahan olokan, atau menjadi pelampiasan.
Aku pun anggap ini delusi kekerdilan milik mereka.
Kemudian ini menjadi repetisi monotonisasi polemik.
Mereka mungkin lupa kalau aku terlalu muda!
Kau tahu, rasanya aku ingin melemparkan cairan kimia kepada wajah-wajah impulsif itu.
Atau sekedar berteriak meninggikan suara,
menampar setiap wajah fantasi,
atau memotong menjadi irisan kecil penuh sayatan kepada ular pemakan sesamanya.
Bagaimana menurutmu, apakah aku masih waras?”

“Hahahaha, apa ada yang menyebutmu gila?
Mereka hanya ingin tahu sampai ke inti seperti apa kau sesungguhnya.
Tetaplah menjadi salju di tengah gurun pasir.
Kau putih meskipun berbeda.
Kau berani beku di tengah panasnya api neraka.”


Lihat,
Dia sudah tertidur, mungkin lelah memahami percakapan kita.
Mungkin dalam lajur persimpangan yang mendambakan kekuatan.
Andai saja dia tidak melihat percakapan kita.
Dan andai saja dia melihat percakapan dua biota gigantis melata..
.......

Senin, 08 Oktober 2012

Hidup ini tentang apa..

Tuhan, sesungguhnya hidup ini tentang apa?!


Tentang bangun pagi dan bangun pagi lagi, esok dan seterusnya..
Tentang sekelompok manusia ber-jas yang berlari-lari mengejar waktu, berharap akan diperlambat atau justru mereka mekanisme percepatan itu sendiri...
Tentang keharusan bangun jam 4 pagi demi berjejal di kereta, naik dalam keadaan kering dan turun dalam keadaan basah, tidak memesan setelan sauna atau dipastikan sama sekali tidak mengompol..
Tentang kaum jetset yang sarapan-mandi-buang air, bisa dalam pulau yang berbeda..
Tentang pertemuan orang yang tepat di waktu yang tepat sehingga tidak ada lagi fase-fase berjalan gontai penasaran dalam kesepian..
Tentang manusia yang tanpa beban dalam raut mukanya, santai meminum kopi di sudut ruangan sendirian..
Tentang kehausan informasi yang mesti ditibakan secepat kilat dan tidak berkenan lagi mencari sumbernya, dalam tanda kurung besar tapi cukup dilewati saja yang entah benar-entah tidak...
Tentang setumpuk buku yang harus dilahap demi membentuk memori sebesar biji kacang di kepala, yang pasti berguna kalau tidak mati terlalu cepat atau terkapar di rumah sakit..
Tentang hari yang berusaha dimaknai sekuat tenaga agar tidak menyesal terhadap detik yang baru saja lewat, tapi terperosok di sudut situasi dan berharap surga itu benar adanya..
Tentang hasrat ingin mengalami, ingin mendapatkan sesuatu yang sama dengan yang lain, perencanaan, cita-cita, harapan, bias atau kekal..
Atau tentang makna yang berselimut dalam kata yang menjadikan yang berat terlihat ringan dan yang ringan menjadi berat...

Beberapa terlihat ringan menjalani hidupnya..
Tidak ada masalah mencekat berkadar keterlaluan..
Semua terlihat seperti jalan beraspal yang tidak menikung, tidang bergelombang, tidak ada traffic..
Tuhan, semoga dosaku seringan kehidupan yang seperti itu saja..
"Mungkin hampir semua orang melacur, melacurkan waktu, jati diri, pikiran, bahkan jiwanya.."


Hidup adalah tentang memilih dan pilihan.. Opto, Ergo Sum..
Tidak-tidak! Tidak ada satupun kebetulan di dunia ini. Semua sudah diatur oleh suatu Maha Rencana dimana setiap orang akan mengalaminya tanpa satupun lolos sebagai penonton saja..
Bagaimana menetap dalam kenyamanan adalah tentang anasir cinta yang harus lebih dominan daripada benci.., Sehingga setiap orang menjadi suatu kestabilan atom yang beraturan.. Yang demikianlah kenyamanan untuk ditinggali lama. Tidak lagi tentang materi, tidak lagi tentang berbeda paham, berbeda persepsi seperti langit dan bumi yang menimbulkan petir setiap kali ingin menyamakannya ..
Benar, bagiku "Semua orang menyimpan matahari dalam dirinya, ada yang terbit dan mungkin juga ada yang terbenam. Tapi lebih dari itu, dan mungkin sependapat karena itu, Matahari lah yang berdaya hingga membakar semua menjadi malam"...


Sesekali kita merasa lelah berjalan menapaki satu per satu langkah kehidupan,.. Sesekali menjadi serdadu atau bahkan remeh-remeh dalam kue kuning besar.. Sedang manusia, selalu terfokus ingin melahap potongan yang lebih besar..
"Aku merasa begitu kecil di tengah keluasanku"...


Sesekali kejadian kosmogenik ini membuat hidup menjadi penuh hikmah.. Tapi tidak sedikit yang membuat kita menjadi gila.. Atau mungkin saat itulah anda menapaki kewarasan..
Kita mengada-adakan yang tidak ada.. Atau tentang Ada yang ada pada dirinya sendiri itu.. Mungkin karena keresahan yang tertinggal dan terlewat.. Atau karena benar-benar resah yang memang begitu adanya tanpa dicari dan berharap dilewatkan..
"Kebahagiaan dan kesedihan kejar mengejar bagai dua hantu penasaran. Sedang kita adalah lintasan yang letih dilewati, tetapi tak bisa bergerak kemana-mana..
Dan waktu, adalah Pak Tua yang cuma diam mengamati, angkuh memegang bandul detiknya yang tak bisa berkompromi..


Hidup adalah bagaimana kita menafsirkannya.. Beberapa terdoktrin teori sempurna, beberapa harus mencarinya sendiri susah payah, beberapa terlempar dalam keadaan yang mengguncangkan.. Dan beberapa mengalami tendensi dalam ketergantungan.. Aku namakan ini surga..
Surga tempat pertemuan ion-ion berkelimat, simpul menyimpul, hingga tidak tahu yang mana ujung yang mana pangkal..
Lelah mencari kepastian, tapi hanya satu yang pasti dalam hidup, yaitu ketidakpastian. Hanya satu yang patut diharapkan, yang tidak diharapkan.. Segalanya berubah dan hanya satu yang menetap, perubahan itu sendiri..
"Dan dalam kekekalan hadir segalanya, medan matriks yang tak terhingga berisi segala probabilitas dan potensi"..


#KPBJ