About Me

Foto saya
Indonesia
Analytic person, Fantastic dreamer, Sensitive feeling, but actually I am kind, friendly and fun

Rabu, 21 Mei 2014

Hullaa Hop Haalluu Hulla Poh!

Hai!

Apa kabar?


Tema kali ini bingung mau nulis apaan karena issue yang lagi happening campur aduk habis-habisan antara issu politik yang lagi hits, kesibukan di sela-sela dokumen, kesibukan lain untuk menata jalan yang lain, kesibukan lain dengan lafadzh basmallah dan semoga berakhir hamdallah, kesibukan pecandu dari pendosa, kesibukan yang membusukkan wajah dan menuakan pandangan dalam dilema seperempat abad.

Olrite wong cilik ndak pantes ngomongin masalah negara, harta orang yang ga cukup dihitung pake rupiah, modus hidup Ubermansch dan Kehendak untuk Berkuasa (Der Will Zur Macht) dengan Membalikkan Semua Nilai (Umwertung Aller Werten), atau memberikan hafidz-hafidz dengan pemahaman yang tidak seberapa..
So.., Kita bahas review holiday aja.. :D

Saya bukan ahli ekonom yang sejatinya tau bagaimana sebaiknya pembagian penghasilan untuk masuk ke area investasi, harta bergerak atau aktiva tidak bergerak...

Wishing + ke-nekad-an = Kun Fayakun
Walopun sepak terjang sesama pemula yang mulai di garis start yang sama bahkan sudah bisa menapak ke Eropa, China, Mekkah lalala,..

Hmm, bermodalkan mulut untuk bertanya sama makhluk berwajah sipit tapi mengeluarkan bunyi eropa berlogat Tionghoa-melayu campur aduk dan susah ditafsirkan untuk saya pribadi, plus internet untuk mempelajari jejak langkah orang-orang yang konon lebih duluan..


Masuk ke hari pertama... Day 1, tiba di Changi dengan sistem tujuan utama ke Lavender, hostel Mercury 57 st. Not Bad. Di lingkungan yang sangat manusiawi banyak orang Indonesia dan di stasiun ada makanan halal. Cukup naek MRT jalur hijau yang transit dulu di Tanah Merah.

Check in, bobok tjantik bentar lanjut ke Bugis street dengan jalan kaki. "Surprise", Blog syit  yg bilang jalan kaki itu pasti ga tinggal di lavender. 4 shelter meeennn.. Mending nek bus atau MRT deh ciyuss.. Di Bugis tempat belanja sangat manusiawi. Semua ada, cukup disini aja uda kebeli. Ciyus deh. Souvenir, coklat, mall apapun.., ada.


Lanjut Day 2, penasaran dengan fenomena shoping holic orchard. Tapi turunnya di somerset referensi bilang gitu karna banyak banget tempat branded sepanjang jalan somerset-orchard. Versi gw sih bener. Tapi untuk alur bolak balik buat yg plin plan kaya eyke baiknya dimulai dari orchard :p







Day 3, sesuai konsep tujuan utama adalah jalan-jalan dan foto-foto. Mission accomplished! Dari Harbour Front naek Sentosa Express ke sentosa island dengan $4 PP. Nice. Daaann puncaknya adalah kaki-kaki yang cikal bakal varises sangat tidak direkomendasikan untuk melakukan 3-4 destinasi dalam sehari. Karena hasilnya varises anda menjadi real T.T
But at least it's fun..


























Some of people know the way to spending time. Some of 'em regret not to spend the place they wanna go.

Senin, 17 Februari 2014

Biarkan Memuai

Bukan tentang perubahan wujud buah pengaruh suhu dan kalori..

Bukan tentang pertempuran rumus matematis negatif dikali negatif..

Bukan tentang hubungan dinamis dalam sebuah garis lurus yang mutlak sejatinya..

Bukan tentang perdebatan rumus absolut dan anomalinya pada kenyataan..

Bukan tentang bagaimana efisiensi kau menggunakan energi sehingga tidak terbuang sia-sia..

Atau tentang terus mengayuh sepeda sendirian, sendirian, dan sendirian, sampai akhirnya kakimu lelah..

Tidak juga tentang menaik-i kereta yang salah..

Bukan juga tentang responsibility mana yang harus dihabiskan..

Bukan tentang duduk manis dan menjadi penonton selamanya..

Bukan tentang yang jauh ingin kau buat dekat, dan setelah dekat menjadi tidak berguna..

Bukan lagi tentang menyalahi takdir atau yang kau yakini apalah itu..

Bukan tentang tidak timbul lagi dalam gelap..

Katakan saja "Belum", ini "Belum Selesai"..


Meskipun tampaknya Tuhan menyuruhmu untuk menyerah. Sekalipun kau bersusah payah Berintropeksi, Meditasi, Negosiasi habis-habisan pada diri sendiri.

Mungkin ada kemungkinan di dalam mungkin itu sendiri agar yang tidak mungkin menjadi mungkin meskipun mungkin pun hanyalah sebuah kemungkinan.

Mungkin tentang bagaimana nanti kamu bercerita tentang keterbatasan, penerimaan, dan pada akhirnya..
Pada akhirnya yang.., entahlah..

Entah bagaimana jiwa kita berebut untuk melangkah, tapi raga masih di tempat yang sama..

Kadang melambung bareng khayalan semu, tapi kadang lambungan akan menjadi pengantar pada takdir yang sesungguhnya..

Tidak punya skema atau proposal yang jelas.. Selalu berbebat, berbuat salah, namun menginginkan tempat yang teramat aman.

Maka pengali negatif memang harus dibarengi dengan kesenamaan agar kamu tau hasil yang besar..

Jika sedari awal kamu terus bertahan pada HASIL, bukan PROSES. Tapi pada akhirnya kita harus menyerah dan melakukan perdamaian untuk menghargai proses..

Karena mungkin setelah perdamaian,
dalam bentuk yang seutuhnya, jelas, dengan suhu, kalori, dan energi yang tepat kamu baru bisa memuai dengan sesungguhnya!

Rabu, 04 Desember 2013

Kamis, 21 November 2013

Semifinalis setaun lalu

Iseng searching nama sendiri di google..
Kejadian setahun lalu ada dokumentasinya toh :p






-I'm awesome as always-


Rabu, 23 Oktober 2013

Kosong

Mungkin inilah prediksi kaum kapitalis menggambarkan serdadu pilar-pilar yang tidak seberapa.. Bersinonim dengan mekanisme mesin atau robot. Juga termasuk aku didalamnya tentunya.
Aku rindu rumah. Ingin tanah tapi yang benar-benar berwarna coklat dan mencium harumnya setelah air hujan meresap. Aku rindu udara yang tidak membuat hidung pedas ketika menghirupnya berlebihan. Hingar bingar pasar. Benar-benar tidak menginginkan racun apapun mengelilingi kegiatan kecil hari per hari.

Ternyata benar, kita terkecilkan dalam labirin kita sendiri. Realitas kemudian mengkotak-kotakkan harapan fana dalam fatamorgana semu. Entah bagaimana kita diperdaya pada kebutuhan.

Ahh, andai saja jiwa ini bisa berzinnah sedikit saja. Menikmati pelacuran imajinasi, fantasi, atau apapun yang bisa biasanya mereka lakukan. Dan tidak juga Tuhan memberikan potongan takdir pada mereka. Misalnya setingkat lebih miskin atau sedikit celaka. Tidak. Mereka bahkan sangat baik-baik saja.
Kalau bukan karena kita meyakini adanya surga secara berlebihan.

Maka, jangan pernah pertanyaan tentang keadilan di ranah ini. Kita bukan peri di zama ke-kini-an. Yang mungkin bisa berbagi kasih dengan manusia yang mungkin baik - yang kau yakini.

Mungkin serapah, benci, patah hati. karena (lagi-lagi) kita bukan peri.

Lalu mungkin Tuhan ikut bingung ingin mengabulkan doa yang mana....